Tuesday, 13 November 2018

Cara Menghitung Kebutuhan Besi Kolom Pada Struktur Bangunan


Dalam sebuah projek sederhana atau kompleks, menghitung kebutuhan besi kolom yang digunakan dalam pekerjaan kolom menjadi satu tugas rutin yang wajib bagi pelaksana atau perencana. Hal ini dilakukan untuk mendapat gambaran apakah biaya projek layak untuk dikerjakan atau tidak. Kali ini admin hanya membuat dengan konsep sederhana saja sebagai bahan masukan bagaimana cara menghitung kebutuhan besi secara sederhana. Kebutuhan besi bisa didapat dengan cepat asalkan kita telah memegang gambar rencana dari suatu projek. Perhitungan berikut ini admin buat berdasarkan laporan kerja praktik yang dilaksanakan sewaktu mengambil mata kuliah kerja praktik lapangan di Teknik Sipil.

Buat kelompok kolom dan tipe tulangan berdasarkan kolom yang ditinjau
Buat kategori berdasarkan kesamaan panjang dan dimensi pada kolom bangunan yang sama terlebih dahulu , misal dilantai satu ada berapa jenis kolom yang dipakai lalu buat kelompoknya lalu akan didapat misalnya kolom K1 K2 dan sebagainya. Setelah kelompok kolom ditentukan, maka lanjutkan dengan membuat tabel sederhana dari masing – masing kelompok tersebut. Untuk lebih jelasnya admin membuat contoh perhitungan kolom misal disini K1. Sekarang perhatikan keterangan gambar yang disediakan pada gambar kerja. Di contoh ini tertulis kebutuhan tulangan utama sebanyak 16 batang dengan diameter 22, Sengkang arah x diameter 10 dengan jarak 150 cm dan sengkang y diameter 10 jarak yang sama 150 cm sementara dimensi kolom adalah 400 x 800 cm.





Buat kelompok jenis tulangan terlebih dahulu
Setelah didapat informasi berdasarkan gambar kerja diatas, selanjutnya kita bagikan type tulangan yang dipakai dalam contoh ini dibuat type 1 untuk tulangan utama, type 2 untuk sengkang arah x dan type 2 untuk arah sengkang arah y.

Cari berapa panjang masing – masing jenis tulangan
Setelah menentukan tipe tulangan apa saja yang dibutuhkan, selanjutnya kita cari panjang dari masing – masing type. Agar lebih mudah kita cari dulu untuk tipe 1 yaitu mencari panjang tulangan utamanya dalam satu batang. Dari gambar diatas kita lihat bahwa pajang tulangan 1 batang untuk tulangan tipe satu adalah 3500 cm ditambah hook yang diperlukan. Begitu juga untuk mencari berapa panjang satu buah sengkang arah x dan berapa panjang arah y dengan cara mencari berapa selimut beton dan hook yang digunakan. Untuk menghitung selimut beton dan hook anda bisa mengacu pada beberapa peraturan yang telah berlaku di Indonesia.

Masing – masing panjang tulangan yang diperlukan berdasarkan tipe kolom yang kita tinjau selanjutnya dibuat tabel kelompok agar mudah dalam menghitungnya. Untuk lebih jelasnya di sini admin membuat gambar pengelompokan kolom yang telah dibuat berdasarkan uraian diatas tadi agar mudah dipahami.



Selanjutnya kita bisa menghitung berapa berat total besi yang di perlukan pada pekerjaan kolom yang kita tinjau. Dari contoh diatas kita hanya menghitung satu tipe kolom K1 diperlukan besi seberat 352 Kg dan masing – masing panjang tulangan juga kita peroleh. Jadi jika jumlah kolom dengan tipe k1 ini banyak, tinggal dikalikan saja berapa jumlah nya. Untuk menentukan berapa batang besi yang digunakan tinggal dibagi saja dengan panjang besi di pasaran yaitu sekitar 12 meter. Atau bisa kita bagi dengan berat besi per batang berdasarkan tabel yang ada.


Link redaksi : kolomsatu.com

Baca juga : Pengertian Material Komposit

Tuesday, 30 October 2018

Harga satuan beton 2018

 

Beton merupakan material utama untuk struktur bangunan dengan konstruksi beton bertulang. Beton yang terbuat dari campuran semen, pasir, kerikil, dan air memiliki mutu yang berbeda-beda tergantung dari komposisi campuran bahan-bahannya.

Pada kesempatan ini kami menyajikan Analisa Harga Satuan Beton yang asalnya bersumber dari SNI tetapi telah kami sesuaikan sehingga mungkin agak berbeda dengan analisa harga satuan versi SNI.




Harga Satuan Bahan dan Upah di bawah ini merupakan harga asumsi, yang besarnya bisa bervariasi tergantung dari lokasi pekerjaan, pengalaman dan keterampilan tukang, dan banyak faktor yang lain. Untuk contoh perhitungan ini kita ambil asumsi sebagai berikut :

Harga Semen 50 kg per sak 65.000,-
Harga Pasir beton per m3  210.000,-
Harga Kerikil per m3  205.000,-
Harga Air per liter  5.,-


Harga Upah Pekerja per hari 70.000,-
Harga Upah Tukang Batu per hari  100.000,-
Harga Upah Kepala Tukang per hari 120.000,-
Harga Upah Mandor per hari 150.000,-


Analisa Harga Satuan Pekerjaan Beton K 125 / m3

Material





Semen 5,520 sak @ 65.000 = 358.800
Pasir Beton 0,591 m3 @ 210.000 = 124.110
Kerikil 0,750 m3 @ 205.000 = 153.750
Air 215,000 liter @ 5 = 1.075




Subtotal = 637.735
Upah





Pekerja 1,650 OH @ 70.000 = 115.500
Tukang Batu 0,275 OH @ 100.000 = 27.500
Kepala Tukang 0,028 OH @ 120.000 = 3.360
Mandor 0,083 OH @ 150.000 = 12.450




 Subtotal = 158.810




 Total = 796.545




Dibulatkan = 796.500


Analisa Harga Satuan Pekerjaan Beton K 175 / m3


Material





Semen 6,520 sak @ 65.000 = 423.800
Pasir Beton 0,543 m3 @ 210.000 = 114.030
Kerikil 0,762 m3 @ 205.000 = 156.210
Air 215,000 liter @ 5 = 1.075




Subtotal = 695.115
Upah





Pekerja 1,650 OH @ 70.000 = 115.500
Tukang Batu 0,275 OH @ 100.000 = 27.500
Kepala Tukang 0,028 OH @ 120.000 = 3.360
Mandor 0,083 OH @ 150.000 = 12.450




 Subtotal = 158.810




 Total = 853.925




Dibulatkan = 853.900

Analisa Harga Satuan Pekerjaan Beton K 225 / m3


Material





Semen 7,420 sak @ 65.000 = 482.300
Pasir Beton 0,499 m3 @ 210.000 = 104.790
Kerikil 0,776 m3 @ 205.000 = 159.080
Air 215,000 liter @ 5 = 1.075




Subtotal = 747.245
Upah





Pekerja 1,650 OH @ 70.000 = 115.500
Tukang Batu 0,275 OH @ 100.000 = 27.500
Kepala Tukang 0,028 OH @ 120.000 = 3.360
Mandor 0,083 OH @ 150.000 = 12.450




 Subtotal = 158.810




 Total = 906.055




Dibulatkan = 906.000

Analisa Harga Satuan Pekerjaan Beton K 250 / m3


Material





Semen 7,680 sak @ 65.000 = 499.200
Pasir Beton 0,494 m3 @ 210.000 = 103.740
Kerikil 0,770 m3 @ 205.000 = 157.850
Air 215,000 liter @ 5 = 1.075




Subtotal = 761.865
Upah





Pekerja 1,650 OH @ 70.000 = 115.500
Tukang Batu 0,275 OH @ 100.000 = 27.500
Kepala Tukang 0,028 OH @ 120.000 = 3.360
Mandor 0,083 OH @ 150.000 = 12.450




 Subtotal = 158.810




 Total = 920.675




Dibulatkan = 920.600

Analisa Harga Satuan Pekerjaan Beton K 275 / m3


Material





Semen 8,120 sak @ 65.000 = 527.800
Pasir Beton 0,489 m3 @ 210.000 = 102.690
Kerikil 0,760 m3 @ 205.000 = 155.800
Air 215,000 liter @ 5 = 1.075




Subtotal = 787.365
Upah





Pekerja 1,650 OH @ 70.000 = 115.500
Tukang Batu 0,275 OH @ 100.000 = 27.500
Kepala Tukang 0,028 OH @ 120.000 = 3.360
Mandor 0,083 OH @ 150.000 = 12.450




 Subtotal = 158.810




 Total = 946.175




Dibulatkan = 946.100

Analisa Harga Satuan Pekerjaan Beton K 300 / m3


Material





Semen 8,260 sak @ 65.000 = 536.900
Pasir Beton 0,486 m3 @ 210.000 = 102.060
Kerikil 0,756 m3 @ 205.000 = 154.980
Air 215,000 liter @ 5 = 1.075




Subtotal = 795.015
Upah





Pekerja 1,650 OH @ 70.000 = 115.500
Tukang Batu 0,275 OH @ 100.000 = 27.500
Kepala Tukang 0,028 OH @ 120.000 = 3.360
Mandor 0,083 OH @ 150.000 = 12.450




 Subtotal = 158.810




 Total = 953.825




Dibulatkan = 953.800

Analisa Harga Satuan Pekerjaan Beton K 350 / m3


Material





Semen 8.960 sak @ 65.000 = 582.400
Pasir Beton 0,476 m3 @ 210.000 = 99.960
Kerikil 0,741 m3 @ 205.000 = 151.905
Air 215,000 liter @ 5 = 1.075




Subtotal = 835.340
Upah





Pekerja 1,650 OH @ 70.000 = 115.500
Tukang Batu 0,275 OH @ 100.000 = 27.500
Kepala Tukang 0,028 OH @ 120.000 = 3.360
Mandor 0,083 OH @ 150.000 = 12.450




 Subtotal = 158.810




 Total = 994.150




Dibulatkan=994.100

Wednesday, 22 August 2018

Structural Engineering

Hasil gambar untuk Structural Engineering
Di dalam teknik sipil sendiri, ada berbagai macam konsentrasi (tiap universitas akan berbeda) adalah:
  1. Architectural
  2. Construction
  3. Geomatics (Surveying)
  4. Geotechnical
  5. Hydraulics
  6. Materials
  7. Structural
  8. Transportation


Teknik Struktur adalah cabang teknik yang paling tua di dunia. Beberapa ilmuwan terkenal yang bisa dikenal sebagai insinyur struktur adalah Leonardo da Vinci, Galileo Galilei, Robert Hooke, Isaac Newton, dll. Memang para ilmuwan ini bukan saja hebat dalam teknik struktur. Leonardo da Vinci lebih dikenal oleh lukisannya, Galileo dengan gravitasi, Hooke dengan hukum pegas yang kita pelajari di SMP. Ilmu teknik atau “Engineering” di dalam bahasa inggris, secara garis besar adalah “Applied Science”.





Dulu saya tidak mengerti terminologi “Applied Science“. Engineering adalah sebuah “Applied Science” karena kita menggunakan konsep-konsep yang kita pelajari di Fisika/Kimia dalam dunia nyata. Dalam konteks Teknik Sipil, kita menggunakan konsep-konsep seperti gravitasi, tekanan, dll untuk menjawab pertanyaan seperti “Seberapa besarkah kolom yang saya butuhkan agar bangunan ini tidak tumbang?”


Baca juga : Pengertian Material Komposit

Di dalam teknik sipil sendiri, ada berbagai macam konsentrasi yang bisa kita pilih. Semua mahasiswa tahun ke-2 di perguruan tinggi S1 saya, Purdue University, diharuskan mengambil kelas seminar: CE290. Di dalam kelas seminar ini, beberapa profesor dari berbagai konsentrasi di Teknik Sipil akan memberikan presentasi ke mahasiswa dengan tujuan untuk menjelaskan apa yang mereka lakukan dalam kesehari-hariannya. Beberapa konsentrasi yang ada di Purdue (tiap universitas akan berbeda) adalah:



  1. Architectural
  2. Construction
  3. Geomatics (Surveying)
  4. Geotechnical
  5. Hydraulics
  6. Materials
  7. Structural
  8. Transportation
pada intinya, Structural Engineer menghitung kekuatan sebuah bangunan. Sebelum kita membahas terlalu dalam, mari kita pikirkan kenapa kita mempelajari Structural Engineering. Kita ambil contoh komputer. Jika sebuah komponen di dalam komputer kita rusak, paling kita bawa ke toko komputer dan komputer kita akan menjadi seperti baru lagi. Tapi jika komponen struktur seperti kolom dalam sebuah bangunan rusak, bangunan tersebut akan runtuh dan bisa bisa mencederai orang-orang di dalam bangunan tersebut.


Banyak desain-desain struktur yang berbeda dasarnya. Desain untuk sebuah jembatan jauh bedanya dari desain sebuah ruko 2 lantai. Pada intinya, kita tidak mau suatu bangunan runtuh. Ada dua sisi dari desain: kapasitas sebuah bangunan dan beban yang diberikan kepada bangunan tersebut. Jika beban yang kita berikan melebihi kapasitas bangunan tersebut, bangunan itu akan runtuh. Oleh karena itu, kita sebagai structural engineer menyelidiki mekanisme bagaimana sebuah bangunan bisa runtuh agar kita bisa menghindarinya.
Kapasitas bangunan sangat dipengaruhi oleh bahan yang kita pakai untuk membangun bangunan itu. Dua bahan yang umum dipakai adalah baja dan beton:



  • Desain baja biasanya jauh lebih akurat daripada desain beton, karena baja lebih gampang diprediksi. Oleh karena itu, baja bisa dimodel dengan lebih akurat dengan komputer dan menghasilkan desain yang sangat efisien. Untuk mencapai desain yang efisien, program seperti STAAD Pro, SAP2000, dll biasa dipakai. Dengan kata lain, tidak banyak material yang “terbuang”. Bangunan yang memakai baja biasanya lebih gampang/cepat untuk dibangun. Tetapi, harga baja jauh lebih mahal daripada beton. Desain baja di Amerika biasanya dipadu oleh buku manual yang diproduksi organisasi seperti AISC (American Institute of Steel Construction). Bila kita tidak mendesain sesuai dengan AISC Manual, saat bangunan yang kita desain roboh, kita bisa dituntut oleh klien.
  • Desain beton biasanya sedikit lebih kasar, karena properti dalam beton tidak bisa diprediksi se-akurat baja. Beton menciut pada saat mengering dan ini memproduksi gelembung udara di dalam beton. Gelembung udara ini menyebabkan beton menjadi lebih lemah dari yang telah diperkirakan karena area beton tidak sebesar yang telah diperkirakan. Tetapi, harga beton lebih murah daripada baja. Banyak juga hal-hal lain yang harus dipertimbangkan ketika memilih bahan yang sesuai dengan kebutuhan bangunan. Desain beton di Amerika biasanya dipadu oleh buku manual yang diproduksi organisasi seperti ACI (American Concrete Institute).
Ada banyak beban yang harus dipertimbangkan oleh seorang structural engineer. Beberapa yang paling penting adalah:



  • Dead Load dan Live Load. Inilah beban yang paling umum. Dead Load adalah beban mati seperti beban beton/baja dan beban lain yang tidak akan pernah bergerak. Live Load adalah beban hidup seperti furniture, manusia, dan beban lain yang bisa bergerak.
  • Wind Load – Beban angin biasanya mendorong bangunan secara lateral.
  • Earthquake Load – Beban gempa lumayan umum di Indonesia. Karena itu, bangunan harus bisa tetap berdiri bila ada gempa bumi yang relatif lemah.
Mekanisme kegagalan (Failure Mechanism) daripada berbagai macam bangunan berbeda-beda. Berbagai kecelakaan di dunia yang pernah terjadi telah dipelajari oleh para ahli riset. Tetapi, tidak mungkin kita bisa membaca semua laporan riset ini. Oleh karena itu, riset-riset ini disusun untuk menjadi sebuah buku panduan, untuk memudahkan pekerjaan kita. Ada buku panduan umum seperti IBC (International Building Code), ASCE7 (American Society of Civil Engineer). Ada juga buku panduan yang spesifik ke satu industri. Jembatan di Amerika biasanya di desain dengan menggunakan buku manual bernama AASHTO (American Association of State Highway and Transportation Officials) sedangkan di bidang industri gas di pandu oleh API (American Petroleum Industry).


Ada persepsi di mana structural engineering tidak akan berganti, karena structural engineering adalah profesi tertua di dunia. Oleh karena itu, jika kita sudah mempelajarinya, kita tidak perlu terus menerus belajar. Masalahnya, profesi structural engineering dulu banyak menggunakan “perkiraan” sedangkan sekarang lebih banyak menggunakan model. Perubahan zaman membolehkan kita membuat model yang jauh lebih akurat daripada dulu. Oleh karena itu, kita bisa membuat desain yang jauh lebih efisien dengan menggunakan bahan yang lebih sedikit. Semua konsep ini disusun ke dalam buku panduan seperti ASCE7, IBC, AASHTO, dll. Dalam dunia yang ideal, seorang structural engineer seharusnya bisa mengingat isi semua buku panduan ini di luar kepala. Tetapi, ini tidak mungkin terjadi. Lebih-lebih lagi buku panduan ini di-update setiap kurang dari 10 tahun, dan terkadang, kita harus memperbaiki bangunan yang telah dibangun sebelum kita lahir.
Pengalaman Pribadi
Ketika SD, kita pasti pernah mendengar istilah kata “Insinyur”. Saya ingat, pertama kali saya mendengar kata “insinyur” adalah dari nama Presiden pertama kita di Indonesia, Ir. Soekarno. Walaupun begitu, sebagai mahasiswa tahun ke-2, saya masih belum benar-benar mengerti apa artinya bekerja sebagai insinyur. Satu hal yang saya tahu, sebagian besar pekerjaan insinyur itu melibatkan fisika dan matematika. Di masa-masa SMA, Fisika dan Matematika adalah 2 mata pelajaran favorit saya, jadi dengan pasti saya memilih jurusan teknik untuk menjadi insinyur. Satu pertanyaan terbesar, insinyur teknik apa?


Banyak sekali pilihan yang ada: teknik mesin, teknik kimia, teknik industri, teknik sipil, teknik elektro, dll. Ketika masih di SMA, saya pikir saya akan memilih teknik mesin atau teknik elektro. Ayah saya menganjurkan saya untuk mengambil teknik sipil, dan karena saya pikir semua teknik itu dalam garis besar adalah sama, saya tidak begitu peduli. Untungnya, Universitas di Malaysia tidak mengharuskan kita mendeklarasikan jurusan kita di awal studi. Saya mengambil yang namanya “American University Program” dan di dalam program ini, asal kita bilang kita mau menjadi insinyur, kebanyakan dari kelas yang diambil sama saja.
Saya belajar di INTI Int’l Univ. College, Malaysia selama dua tahun sebelum saya mendaftar ke Purdue University di Amerika. Saya mendaftar sebagai jurusan teknik sipil, tapi dimasukkan ke dalam program yang namanya “First-Year Engineering”. Di sinilah saya menyadari bahwa jurusan teknik itu sangatlah bervariasi, dan tiap-tiap program sangat berbeda. Teknik mesin bisa bekerja untuk mendesain mobil, pipa, ac rumah dll. Teknik sipil bisa bekerja dengan urban-planning, transportasi, struktur rumah, pondasi, dll.


Di Purdue University, kita mempunyai fasilitas academic advisor dimana mereka akan menganjurkan kelas apa yang sebaiknya diambil semester depan. Mereka akan memberi tahu kelas mana yang sulit dan kelas mana yang gampang. Kelas di Purdue University bisa kita bagi menjadi beberapa group:
  • Humanities – History, Philosophy, Music, etc.
  • Social Sciences – Psychology, Sociology, Economics, etc.
  • Math and Basic Sciences – Calculus, Statistics, Physics, Chemistry, etc.
  • Applied Sciences – Mechanics of Materials, Statics and Dynamics, Hydraulics, etc.
Biasanya, Humanities dan Social Sciences adalah di mana kita bisa memperbaiki GPA kita, dan kelas Applied Sciences adalah kelas yang lebih sulit. Maka dari itu, para academic advisors biasanya menganjurkan untuk mencampur kelas tiap semester: 1 Humanities/Social Sciences, 2 Math and Basic Sciences, 2 Applied Sciences. Dari pengalaman saya, justru sebaliknya, karena saya tidak begitu bisa menghafal. Nilai Humanities/Social Sciences saya jelek.


Penutup
Itulah pengalaman saya berkelana mempelajari teknik struktur. Walau pengalaman saya terbatas, saya berharap pengalaman saya bisa membantu menambah wawasan para pembaca Indonesia Mengglobal. Jika tertarik dengan profesi structural engineering, ada beberapa buku bagus yang bisa dibaca:
Mario Salvadori – Why Buildings Stand Up
R.C. Hibbeler – Mechanics of Materials
Beer & Johnston – Vector Mechanics for Engineers
Photo taken by the author himself