Monday, May 24, 2021

Cara Menentukan Jenis jenis Pondasi

 
 
Cara Menentukan Jenis jenis PondasiCara Menentukan Jenis jenis Pondasi
Dalam pemilihan bentuk pondasi dan jenis pondasi yang memadahi, perlu diperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan pondasi tersebut. Hal ini disebabkan tidak semua jenis pondasi dapat dilaksanakan di semua tempat.(Misal penggunaan pondasi tiang pancang pada daerah padat penduduk tentu tidak tepat meskipun secara teknis telah memenuhi syarat). Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih pondasi : Kondisi tanah yang akan dipasangi pondasi. Batasan-batasan akibat konstruksi di atas pondasi (superstructure). Faktor lingkungan. waktu pekerjaan pondasi Biaya pengerjaan pondasi Ketersediaan material pembuatan pondasi di daerah tersebut. Pemilihan Pondasi Berdasar Daya Dukung Tanah : Bila tanah keras terletak pada permukaan tanah atau 2-3 meter di bawah permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah pondasi dangkal. (misal: pondasi jalur, pondasi telapak atau pondasi strauss). Bila tanah keras terletak pada kedalaman sekitar 10 meter atau lebih di bawah permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah pondasi tiang minipile, pondasi sumuran atau pondasi bored pile. Bila tanah keras terletak pada kedalaman 20 meter atau lebih di bawah permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah pondasi tiang pancang atau pondasi bored pile. Standar daya dukung tanah menurut Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung tahun 1983 adalah : Tanah keras (lebih dari 5 kg/cm2). Tanah sedang (2-5 kg/cm2) Tanah lunak (0,5-2 g/cm2) Tanah amat lunak (0-0,5 kg/cm2) Kriteria daya dukung tanah tersebut dapat ditentukan melalui pengujian secara sederhana. Misal pada tanah berukuran 1 cm x 1 cm yang diberi beban 5 kg tidak akan mengalami penurunan atau amblas maka tanah tersebut digolongkan tanah keras.

Tuesday, June 4, 2019

Contoh hitung kebutuhan besi untuk cor dak lantai beton

Ini kita buatkan contoh menghitung kebutuhan besi untuk cor dak lantai beton yang sering dipakai untuk rumah, gedung, jembatan, jalan atau struktur lainya. cara menghitungnya cukup sederhana dan mudah namun perlu ketelitian agar hasil perhitungan nantinya tidak salah. Akan sangat baik jika saat pelaksanaan pembangunan bisa membeli atau mendatangkan besi dalam jumlah pas, o.k langsung saja kita mulai penjelasanya

Misalnya kita akan membuat plat lantai beton ukuran 3m x 6m, tebalnya 12 cm, besi yang digunakan adalah 10-200 (artinya besi diameter 10mm dipasang dengan jarak 200 mm). besi dipasang pada bagian atas dan bawah.

Jumlah besi Arah datar ( panjang 6m)

Sepanjang 6m ada berapa batang besi jika jarak pemasanganya 20 cm? untuk mengetahuinya dapat dihitung begini = 6m : 0,2 m = 30 bh. karena dipasang atas dan bawah maka ada 30bh x 2 = 60 bh batang.
1 batangnya berapa m? kita lihat jarak sisi tegaknya yaitu 3m.
Nah.. jumlah batangnya sudah kita ketahui, panjang perbatangnya juga sudah kita ketahui. jadi total besi yang diperlukan yaitu 60 bh x 3m = 180 m.

Jumlah besi Arah tegak (panjang 3m)

Langkah perhitunganya sama seperti langkah perhitungan pada arah datar, jumlah besi yang terpasang 3m : 0.2 m = 15bh, dipasang atas bawah jadi ada 30bh.
1 batangnya mempunyai panjang 3m,
Panjang besi perbatang yaitu 30bh x 6m = 180m.
Jadi total kebutuhan besinya adalah 180 m + 180 m = 360 m. jika panjang besi perbatang 12 m , maka bisa kita cari tahu berapa batang butuhnya. caranya yaitu 360 m : 12 m = 30 batang.
Jika hendak mengetahui berapa kg butuhnya, maka bisa melihat tabel besi untuk mengetahui berat besi diameter 10mm permeternya. dari tabel tersebut dapat kita lihat berat besi 10 polos permeter yaitu 0,617 kg. jadi total berat yang dibituhkan adalah 0,617 kg x 180 m = 111,06 kg.
Kebutuhan beton pada plat tersebut dapat kita hitung 3m x 6m x 0,12m = 2,16m3.





Kesimpulan kebutuhan besi, jadi untuk membuat plat beton ukuran 3m x 3m, dengan besi tulangan 10-200 dua lapis atas bawah, kita butuhkan besi sebagai berikut
Ukuran Pelat = 3 m x 6 m
Besi 10 – 200
Jumlah m = 180 m
Jumlah batang = 30 btg
Jumlah berat = 111,06 kg
Beton = 2,16m3.

Pengertian Material Komposit

Komposit adalah material yang tersusun atas campuran dua atau lebih material dengan sifat kimia dan fisika berbeda, dan menghasilkan sebuah material baru yang memiliki sifat-sifat berbeda dengan material-material pengusunnya. Salah satu contoh paling mudah dari material komposit adalah beton cor yang tersusun atas campuran dari pasir, batu koral, semen, besi, serta air.

Nampak bahwa material-material penyusun tersebut memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda, namun ketika dicampurkan dengan perbandingan serta teknik tertentu akan menghasilkan beton yang sangat kuat, keras, dan tahan terhadap berbagai cuaca. 


Material komposit tersusun atas dua tipe material penyusun yakni matriks dan fiber (reinforcement). 
Keduanya memiliki fungsi yang berbeda, fiber berfungsi sebagai material rangka yang menyusun komposit, sedangkan matriks berfungsi untuk merekatkan fiber dan menjaganya agar tidak berubah posisi. Campuran keduanya akan menghasilkan material yang keras, kuat, namun ringan. 


Fiber memiliki sifat yang mudah untuk diubah bentuknya dengan cara dipotong atau juga dicetak sesuai dengan kebutuhan desainnya. Selain itu, perbedaan pengaturan susunan fiber akan merubah pula sifat-sifat komposit yang dihasilkan. 

Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan sifat komposit sesuai dengan parameter yang dibutuhkan. Matriks umumnya terbuat dari bahan resin. Ia berfungsi sebagai perekat material fiber sehingga tumpukan fiber dapat merekat dengan kuat. Resin akan saling mengikat material fiber sehingga beban yang dikenakan pada komposit akan menyebar secara merata. Selain itu resin juga berfungsi untuk melindungi fiber dari serangan bahan kimia atau juga kondisi cuaca ekstrim yang dapat merusaknya. Komposit Dapat Dibuat Menjadi Bentuk Apapun Selain kemudahan untuk medesain komposit ke dalam bentuk apapun, salah satu alasan utama penggunaan material komposit adalah didapatkannya kekuatan material tinggi dengan bobot yang jauh lebih ringan daripada material-material konvensional. Pada tabel di bawah ini nampak perbandingan antara beberapa tipe komposit serat karbon dengan berbagai logam kuat semacam titanium, baja, dan aluminium. Nampak kekuatan tarik serat karbon jauh melampaui material-material tersebut dan di saat yang sama bobot serat karbon justru sangat ringan.


Tuesday, November 13, 2018

Cara Menghitung Kebutuhan Besi Kolom Pada Struktur Bangunan

Dalam sebuah projek sederhana atau kompleks, menghitung kebutuhan besi kolom yang digunakan dalam pekerjaan kolom menjadi satu tugas rutin yang wajib bagi pelaksana atau perencana. Hal ini dilakukan untuk mendapat gambaran apakah biaya projek layak untuk dikerjakan atau tidak. Kali ini admin hanya membuat dengan konsep sederhana saja sebagai bahan masukan bagaimana cara menghitung kebutuhan besi secara sederhana. Kebutuhan besi bisa didapat dengan cepat asalkan kita telah memegang gambar rencana dari suatu projek. Perhitungan berikut ini admin buat berdasarkan laporan kerja praktik yang dilaksanakan sewaktu mengambil mata kuliah kerja praktik lapangan di Teknik Sipil.

Buat kelompok kolom dan tipe tulangan berdasarkan kolom yang ditinjau
Buat kategori berdasarkan kesamaan panjang dan dimensi pada kolom bangunan yang sama terlebih dahulu , misal dilantai satu ada berapa jenis kolom yang dipakai lalu buat kelompoknya lalu akan didapat misalnya kolom K1 K2 dan sebagainya. Setelah kelompok kolom ditentukan, maka lanjutkan dengan membuat tabel sederhana dari masing – masing kelompok tersebut. Untuk lebih jelasnya admin membuat contoh perhitungan kolom misal disini K1. Sekarang perhatikan keterangan gambar yang disediakan pada gambar kerja. Di contoh ini tertulis kebutuhan tulangan utama sebanyak 16 batang dengan diameter 22, Sengkang arah x diameter 10 dengan jarak 150 cm dan sengkang y diameter 10 jarak yang sama 150 cm sementara dimensi kolom adalah 400 x 800 cm.





Buat kelompok jenis tulangan terlebih dahulu
Setelah didapat informasi berdasarkan gambar kerja diatas, selanjutnya kita bagikan type tulangan yang dipakai dalam contoh ini dibuat type 1 untuk tulangan utama, type 2 untuk sengkang arah x dan type 2 untuk arah sengkang arah y.

Cari berapa panjang masing – masing jenis tulangan
Setelah menentukan tipe tulangan apa saja yang dibutuhkan, selanjutnya kita cari panjang dari masing – masing type. Agar lebih mudah kita cari dulu untuk tipe 1 yaitu mencari panjang tulangan utamanya dalam satu batang. Dari gambar diatas kita lihat bahwa pajang tulangan 1 batang untuk tulangan tipe satu adalah 3500 cm ditambah hook yang diperlukan. Begitu juga untuk mencari berapa panjang satu buah sengkang arah x dan berapa panjang arah y dengan cara mencari berapa selimut beton dan hook yang digunakan. Untuk menghitung selimut beton dan hook anda bisa mengacu pada beberapa peraturan yang telah berlaku di Indonesia.

Masing – masing panjang tulangan yang diperlukan berdasarkan tipe kolom yang kita tinjau selanjutnya dibuat tabel kelompok agar mudah dalam menghitungnya. Untuk lebih jelasnya di sini admin membuat gambar pengelompokan kolom yang telah dibuat berdasarkan uraian diatas tadi agar mudah dipahami.



Selanjutnya kita bisa menghitung berapa berat total besi yang di perlukan pada pekerjaan kolom yang kita tinjau. Dari contoh diatas kita hanya menghitung satu tipe kolom K1 diperlukan besi seberat 352 Kg dan masing – masing panjang tulangan juga kita peroleh. Jadi jika jumlah kolom dengan tipe k1 ini banyak, tinggal dikalikan saja berapa jumlah nya. Untuk menentukan berapa batang besi yang digunakan tinggal dibagi saja dengan panjang besi di pasaran yaitu sekitar 12 meter. Atau bisa kita bagi dengan berat besi per batang berdasarkan tabel yang ada.



Baca juga : Pengertian Material Komposit

IMB resmi diganti menjadi PBG, perbedanya?

The Cluster kepuh Selama ini untuk mendirikan bangunan dibutuhkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sebagaimana diatur dalam UU No. 28 Tahun 2...